07/01/2016
Banyak orang tua hanya berfokus pada hasil akhir...
Nilai rapot...
'Memperlihatkan' akhlak yg baik...
'Terlihat' penurut dan patuh...
Sedikit orang tua yg peduli pada proses...
Bu Elly Risman (Psikolog) berkisah tentang seorang anak yang berkelahi di dalam kelas. Dan jelas, guru menghukum anak yang (ia lihat) memukul. Tanpa bertanya bagaimana proses sampai anak itu memukul dan kenapa anak itu sampai memukul. Kurang lebih begini :
"Aku diledekin sama si A, awalnya aku diemin aja... Tapi lama-lama anak itu ngeledek keterlaluan. Terus aku jalan keluar kelas, dia jegal kaki aku sampai aku jatuh. Aku bangun tapi dia jorokin aku... akhirnya aku kesal, begitu aku mau balas (baru mau mengangkat tangan untuk memukul) eh pak guru dateng. Aku langsung dihukum..."
Sekitar 15 tahun yang lalu, kelas 1 SMP...
Saya pulang dengan kondisi berdarah darah...
Hooo... Saya kecelakaan setelah pulang dari rumah teman, mengendarai motor milik teman, dan boncengan ber3 ala cabe-cabean... Karena jatuh, motor itu tidak bisa digunakan, jadi saya pulang diantar ojek. Yang terluka 'lebih parah' hanya saya, 2 orang teman saya baik2 saja...
Pulang dengan kondisi yg amburadul, besat besot sana sini, darah dimana mana, kotor dengan aspal jalanan, tidak bisa berjalan, Ayah dan Ibu panik... Entah mengapa mereka kalo panik bawaan nya marah2... kena lah saya di marahi sambil diobati luka fisik, sambil terus diceramahi... "makanya, bla bla bla bla... kalo di bla bla bla kamu tuh harus nya bla bla bla.." kalimat ini pasti kalian hafal dengan baik...
Tapi ada yang terlupa, ada luka yang belum sembuh...
Beberapa hari saya tidak masuk sekolah...
Yang menjenguk hanya 1 orang teman yg saya kunjungi sebelum jatuh dari motor...
Setelah masuk, 2 teman saya yg saya bonceng mengatakan kalau seminggu setelah kecelakaan mesin motor terbelah dua, saya menghancurkan motor orang tua nya dan keluarlah kalimat ini dari orang tua mereka... "kata papa aku, aku ga boleh main lagi sama kamu..." Dan terhentilah pertemanan saya dengan kedua orang itu sampai detik ini...
Kalimat ini sangat familiar ditelinga saya... Sudah banyak orang tua apalagi tetangga yang menuturkan ini ke anaknya utk disampaikan ke saya...
Sampai sekarang saya belum paham, kenapa saya dijauhkan dan tidak punya teman...
Maka nya, setelah lulus SMP saya diungsikan ke rumah tante (pindah domisili) sampai sebelum menikah, dalam waktu bertahun tahun itu saya tidak pulang ke rumah. Pulang pun hanya sehari dua hari... Respek ke tetangga pun 0. Kecuali tetangga sebelah kiri saya yg saya hormati. Hubungan dengan anak tetangga pun 0, dengan teman pun hanya sebatas 'say hallo', kecuali teman2 yang saya memiliki ingatan ttg hal baik dan beberapa teman yang saya rindukan.
Kalimat itu begitu simple, tapi luka goresnya belum juga sembuh sampai sekarang...
Tidak ada yang bertanya sebab kenapa saya bisa jatuh...
Tidak ada yang tau ketika saya mengemudi, ternyata saya dikelitiki oleh teman saya (bukan yg punya motor) dan ditutup mata nya. Begitu mata terbuka, ada mobil angkot di depan saya, begitu saya menghindar ternyata jalanan berpasir sehingga membuat motor yg dikemudikan oleng dan jatuh...
Mari kita tutup cerita yg terus saya ingat belasan tahun ini...
Saya buat catatan untuk saya belajar, agar tidak ada luka goresan dari kisah yang sama.
1. Jangan panik! ketika orang tua panik, maka kesalahan sudah dimulai dari langkah pertama.
2. Tanya apa yg anak rasakan, begitu orang tua melihat ia pulang dalam keadaan yang tidak biasa. Sekedar cemberut, atau terluka berdarah2. Pertanyaan sederhana, dengan nada sederhana, dengan ekspresi sederhana "ada apa? mama lihat kamu terluka..." bukan "ada apa ini?!!!!!" sambil melotot (misalnya).
3. Biarkan anak bercerita dan dengarkan tanpa memotong satu kata pun, tanpa menghakimi, tanpa sok menasehati...
Kami, saya dan pak acha, sedang berusaha menghilang kan kalimat "makanya... kalo bla bla bla, harusnya bla bla bla.." dalam kamus kami... Masih agak sulit karena puluhan tahun hidup tertanam di alam bawah sadar kalimat tuduhan dengan awalan "makanya..."
4. Jika mau menasehati, pastikan dalam keadaan anak sudah dapat menerima dan melewati kekecewaan nya. Mungkin seminggu atau sebulan kemudian ga masalah. Anak butuh waktu untuk menenangkan diri. Jika terus disudutkan, maka yang akan didapat bukan nasehat yang masuk melainkan anggapan orang tua nya sok tau dan sok bijak.
5. Dukung anak, percaya pada anak, besarkan jiwanya... Seorang pemimpin membutuhkan jiwa yang besar. Bukan kah setiap anak adalah calon pemimpin? Baik pemimpin keluarga atau pun pemimpin rumah tangga.
Anak butuh sosok panutan, anak butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya, anak butuh teman bicara dan berdiskusi atau bahkan eyel-eyelan, anak butuh seseorang yg mendukung dan terus ada untuknya.
Anak butuh orang tua, bukan mesin pembuat uang dan tukang atur.
Catatan sekena nya...
Dari kisah yang terus ditangisi...