Firnand coffee shop

Firnand coffee shop "menyediakan segala jenis bubuk kopi berkualitas dan harga tetap merakyat.

Syekh Ibnu Al-'Arabi dalam _Futuhat Al Makkiyah_ mengutip sebuah kisah. Seorang Pemuda menemui gurunya dalam keadaan puc...
27/06/2020

Syekh Ibnu Al-'Arabi dalam _Futuhat Al Makkiyah_ mengutip sebuah kisah.

Seorang Pemuda menemui gurunya dalam keadaan pucat pada suatu pagi.
"Wahai Guru, semalam aku mengkhatamkan Al-Qur'an dalam shalat malamku".

Sang Guru tersenyum. "Bagus Nak, nanti malam tolong hadirkan bayangan diriku dihadapan mu saat kau baca Al-Qur'an itu. Rasakanlah seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca."

Esok harinya, Sang murid datang dan melapor pada gurunya. "Wahai Guru, semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Al-Qur'an".

"Engkau sungguh telah berbuat baik", Sang guru menepuk pundaknya. "Nanti malam lakukan lagi dan kali ini hadirkan lah wajah Para Sahabat Nabi yang telah mendengar Al-Qur'an itu langsung dari Rasulullah. Bayangkanlah baik-baik bahwa mereka sedang mendengarkan dan memeriksa bacaanmu".

Pagi-pagi sang murid sudah menghadap dan mengadu. "Duh Guru", keluhnya, " semalam bahkan hanya sepertiga Al-Qur'an yang dapat aku lafalkan".

"Alhamdulillah..., Engkau telah berbuat baik". Kata sang guru mengelus kepala muridnya. "Nanti malam bacalah Al-Qur'an dengan lebih baik lagi. Sebab yang akan hadir dihadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah SAW sendiri. Orang yang kepadanya Al-Qur'an diturunkan."

Seusai shalat Subuh, sang guru bertanya, "bagaimana Shalatmu semalam?".

"Aku hanya mampu membaca satu Juz Guru, itupun dengan susah payah". Kata si murid.

"Masya Allah", kata sang Guru sambil memeluk muridnya dengan bangga, "Teruskan kebaikan itu Nak, dan nanti malam tolong hadirkan Allah 'Azza Wajalla dihadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah lah mendengar bacaanmu. Allah yang telah menurunkan Al-Qur'an. Dia selalu hadir di dekatmu. Jikapun engkau tak melihat Nya, Dia pasti melihatmu. Ingat baik-baik.
Hadirkan Allah, karena dia mendengar dan menjawab apa yang kau baca!".

Keesokan harinya, ternyata pemuda itu jatuh sakit. Sang Guru pun datang menjenguk nya. "Ada apa denganmu?" Tanya Sang Guru.

Sang murid berlinang air mata.
"Demi Allah, wahai guru, semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku.
Al Fatihah pun tak sanggup aku menamatkannya. Ketika sampai pada ayat, "Iyyaaka na'budu wa Iyyaaka nasta'iin" lidahku kelu. Aku merasa sedang berdusta.
Dimulut aku ucapkan "hanya kepadaMu Yaa Allah aku menyembah dan hanya kepadaMu Yaa Allah aku meminta pertolongan".
Tapi jauh didalam hatiku aku tahu bahwa aku sering memperhatikan yang selain Dia.
Ayat itu tak mau keluar dari lisanku.
Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya".

"Nak...," Kata sang guru sambil berlinang air mata, "mulai hari ini engkaulah guruku.
Dan Sungguh aku Ini Muridmu.
Ajarkan padaku apa yang telah kau peroleh. Sebab meski aku membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada puncak pemahaman yang kau dapat hari ini."

Wallahu a'lam

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد 🌹

25/06/2020

|| vidio motivasi...bg abdi suardin

18/06/2020

|| vidio motivasi..!

17/06/2020

|| vidio motivasi ...mantab pak abdi suardin..

14/06/2020
*MENJELANG WAFATNYA M***I TARIM*Oleh:_Sayyid Usamah bin Zaed BSA_Sebagaimana yang kita ketahui AL-Habib Ali Masyhur bin ...
29/05/2020

*MENJELANG WAFATNYA M***I TARIM*

Oleh:
_Sayyid Usamah bin Zaed BSA_

Sebagaimana yang kita ketahui AL-Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syekh Abubakar bin Salim, beliau tidak pernah mengeluh jika sakit, baik kepada keluarganya sekalipun.
Pada saat khatam di Masjid Ba'alawy malam 27 Ramadhan beliau membisikkan kepada Habib Umar bin Hafidz untuk keliling ke masjid-masjid seperti tahun-tahun sebelumnya, karena disebabkan sempitnya waktu dan beliau ingin tajdid wudlu kemudian melanjutkan sholat tarawih di Masjid Jami' Tarim.
Pada saat sholat witir beliau sudah nampak kelelahan, seusai sholat witir beliau mentajdid wudlu kembali untuk hadir madaih.

Pada malam 28 Ramadhan seperti biasa beliau membuat khataman di rumah, kemudian melanjutkan sholat tarawih kedua di masjid Jami Tarim, dan disaat rakaat terakhir beliau tiba-tiba mundur dan sedikit kelelahan. Setelah saya bertanya beliau mengatakan, "Sepertinya gula darahku naik".

Pada malam 29 Ramadhan seperti biasa beliau membuka rumah untuk jamuan buka puasa yang dihadiri oleh para ulama', umaro' dan semua kalangan. Pada malam tersebut Habib menyapa semua tamu yang bersalaman dengan senyuman perpisahan bahkan bagi ahli Tarim beliau sambil menyebutkan nama mereka satu-persatu. Kemudian beliau melanjutkan sholat tarawih di masjid Jami' Tarim seperti biasa pada pukul 01.30 KSA.
Dipertengahan sholat tarawih beliau mundur untuk tajdid wudlu untuk kemudian melanjutkan sholat tarawih menjadi makmum dengan keadaan duduk.

Pada hari ke 29 yang bertepatan hari jum'at terakhir di bulan Ramadhan dan kebiasaan mengqadla' sholat 5 waktu yang dilaksanakan di kota Inat, namun karena adanya kabar bahwa jalan menuju Inat ditutup, beliau memutuskan untuk sholat jum'at di Misythah karena disana melakukan sholat qadla 5 waktu setelah dilaksanakannya sholat jum'at. Kemudian beliau melanjutkan dengan memberi nasehat kepada para hadirin, begitu juga setelah sholat ashar di masjid Jami' Tarim beliau menyampaikan tausiahnya diantaranya, "Sungguh bulan suci Ramadhan pasti akan kembali datang, akan tetapi apakah kita akan menemui bulan Ramadhan atau umur kita yang menjemput". Kemudian beliau memaksakan diri untuk rutinitas ziarah ke pemakaman Zanbal. Kami telah berusaha meminta beliau untuk mempersingkat ziarah akan tetapi beliau tetap melanjutkan sebagaimana mestinya, kemudian setelah akan menuju ke pemakaman Furait beliau kami paksa untuk kembali agar beristirahat dan Habib Umar akan datang melanjutkan ziarah, karena keadaan beliau yang sudah pucat dan beliau menyetujuinya.

Pada malam 30 Ramadhan beliau masih merasa letih kemudian pada pertengahan tarawih memutuskan untuk menjadi makmum, pada saat sholat witir beliau kembali menjadi imam.
Pada siang harinya (hari sabtu) seperti biasa beliau mengisi pengajian khusus wanita di Darul Fagih, namun dari setelah tarawih kami meminta beliau supaya tidak membuat kajian tersebut, kemudian beliau tetap keluar untuk duduk i'tikaf di masjid Jami' Tarim dari dzuhur hingga menjelang maghrib seperti biasanya.
Di sore harinya beliau memanggil saya agar ikut ke rumah beliau untuk mengambil hadiah-hadiah lebaran, beliau bertanya, "Siapa saja yang sering membantu kita dan orang-orang terdekatmu".

Pada malam harinya yaitu malam idul fitri beliau memaksakan diri sholat isya di masjid Jami' Tarim. Beliau datang pukul 01.00 KSA, ditengah-tengah sholat isya' beliau nampak selalu akan terjatuh didalam sholatnya dan beliau menghidupkan malam tersebut hingga terbit fajar. Ditengah-tengah takbiran kami menerima telepon dari salah seorang muadzin Masjidil Haram Makkah yang mana sang muadzin sedang menyendiri di depan Ka'bah dan menyebut nama Habib Ali Masyhur seraya memohon doa dan fatihah dari beliau pada malam tersebut. Begitu juga pada solat subuh beliau memaksakan diri solat sambil sebelah tangan memegang tiang.

Di pagi hari raya idul fitri saya menerima telepon bahwa Habib Umar meminta jika beliau kesusahan solat ied di Jabanah karena sebagian jalan ditutup sebaiknya solat ied di Darul Musthofa, dan ternyata beliau memang ingin sholat ied di Darul Musthofa untuk pertama kalinya, pada rakaat pertama dan akan melanjutkan berdiri beliau tidak bisa dan terjatuh, sehingga adik beliau Ami Abdullah membantu dan beliau lanjutkan rakaat kedua dengan duduk. Seusai khutbah beliau masih sabar duduk bersama hadirin dan santri jamuan hari raya sekaligus menutup fatihah, yang mana fatihah tersebut adalah fatihah perpisahan kepada Darul Musthofa.

Setelah itu beliau kami bawa cek up karena kondisi beliau semakin lemah, pada malam hari dokter memasangkan cairan infus dan obat-obatan dikarenakan beliau tidak mau makan. Pada malam berikutnya saya menerima telepon sekitar pukul 20.00 KSA, sesampainya saya di kediaman beliau dan beliaupun menyapa saya dengan suara yang sudah lumayan lemah, beliau selalu mengangkat tangan berdo'a dan mengulang kalimat Ya Allahu Ya Allah dan Ya Latif. Kabarnya beliau sudah taqdim solat Maghrib dan Isya' juga membaca Ratib. Sambil menunggu dokter datang kami menghibur beliau dengan Qosidah-qosidah Salaf dan beliau mengikutinya hingga dokter datang, kemudian beliau minum air Zam-zam dan menghembuskan nafas terakhirnya sambil mengisyaratkan syahadat.

Jenazah beliau dikerumuni lautan manusia dikota Tarim.
Sungguh Habib Umar sangat sedih sewaktu masuk keruangan wafat Habib Ali Masyhur, Habib Umar meneteskan air mata dan tidak sanggup mendekati, begitu juga Darul Musthofa, Darul Faqih, Majlis Ifta, Majlis Nasab, Dan Semua penuntut ilmu di Tarim khususnya dan kaum muslimin umumnya berduka dan penduduk barzakh gembira menyambut 'Sang Permata Tarim'.

https://syusamahbsa.wordpress.com/2020/05/27/menjelang-wafatnya-mufti-tarim/

26/05/2020

|| Mantap syekh munawwir ...moga be sabee lam ridha allah..!

21/05/2020

|| Renungan bagi kita semua

Almukaram abu lamkawee
16/05/2020

Almukaram abu lamkawee

13/05/2020

Ne klon be abeh kban... Weuh teuh ta klon....abiya jinieb...!

Address

Jln, Surapati, Sukakarya, Sabang
Sabang

Telephone

+6282275512112

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Firnand coffee shop posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Firnand coffee shop:

Share