05/01/2015
Bisnis Bukan Sekedar Untung Rugi, Namun Surga Neraka
Banyak pengusaha menghalalkan segala cara untuk meraih targetnya. Dan tidak sedikit juga menggunakan cara-cara keji untuk mendapatkan harta, bisa dengan suap, korupsi, dan mengurangi timbangan. Ini adalah perilaku para pengusaha yang jauh dair berkah. Pastilah hidupnya diliputi dengan kekhawatiran dan was-was (jika ia masih beriman).
Karena sejatinya, bisnis bukan sekedar untuk rugi, namun menyangkut urusan surga dan neraka.
Misalnya saja ayat berikut ini yang menjelaskan bagaimana hubungan mengurangi takaran dengan surga dan neraka:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthoffifin: 1-3).
Ibnu Katsir berkata,
“Allah membinasakan dan menghancurkan kaum Syu’aib dikarenakan mereka berbuat curang dalam takaran dan timbangan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 508).
Wail itu sendiri -menurut Tafsir Al Jalalain-,
“Kalimat yang menunjukkan siksa atau lembah di Jahannam.”
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduk di kota tersebut sering bermain curang dalam takaran. Turunlah ayat ‘celakalah al muthoffifin’. Setelah itu barulah mereka memperbagus takaran mereka.” (HR. An Nasai dalam Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dalam Sunan Ibnu Majah no. 1808).
Dan berikut penjelasan mengenai yang memakan harta riba:
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahalAllah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (TQS. Al-Baqarah: 275).
Itu artinya, aktivitas bisnis sekecil apapun akan dipertanggujawabkan. Apalagi jika memakan riba. na’udzubillah. Wallohua’lam.
Sekian share saya kali ini, semoga manfaat ya..
Pagi
Lupa Sedekah Tiap hari