29/04/2016
Info Kuliner
Mengenal Tradisi Tumpeng(an)
Masyarakat Jawa pada khususnya, dan kini rata-rata masyarakat Indonesia pada umumnya, mengenal tradisi tumpengan.
Dalam tradisi Jawa, tumpeng dihadirkan umumnya pada acara selamatan atau perayaan. Tumpeng merupakan nasi yang dibentuk atau dicetak kerucut yang umumnya tinggi, namun kini banyak modifikasinya menjadi tumpeng mini. Nasi yang digunakan pada tumpeng biasanya adalah nasi kuning, nasi putih biasa ataupun dibuat nasi uduk.
Tampah digunakan untuk menopang tumpeng beserta isinya. Tampah merupakan tempat anyaman berbentuk bulat yang umum dijumpai di Indonesia. Daun pisang digunakan sebagai alas tumpeng di atas tampah. Bisa dilihat bahwa penggunaan kompenen alami dalam sebuah tumpeng mengisyaratkan tradisi yang berakar pada hasil alam dan buatan tangan manusia.
Filosofi lain bentuk kerucut pada tumpeng melambangkan tempat yang tinggi, keagungan Tuhan Yang Maha Esa atau bentuk tertinggi penguasa alam semesta yang patut disembah. Bentuk kerucut dengan ujung lancip tinggi diyakini mengandung harapan agar hidup semakin naik dan sejahtera.
Memotong tumpeng bagian atas lalu diberikan pada yang dituakan menandakan nilai-nilai kekeluargaan yaitu menghormati orang yang dituakan atau orang tua. Serta nilai kebersamaan saat menyantap tumpeng. Nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan rasa syukur kepada Tuhan serta perlambang tali silaturahmi.
Komponen warna yang paling sering digunakan pada nasi adalah kuning dan putih. Sekarang, banyak dijumpai bentuk modifikasi warna pada tumpeng, ada yang menggunakan daun pandan untuk memberikan warna hijau, merah dengan menggunakan nasi merah, ataupun dengan menggunakan pewarna makanan untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Namun, pada latar belakangnya, penggunaan nasi putih dihubungkan dengan cahaya kehidupan dan kesucian. Sedangkan warna kuning seperti emas melambangkan rezeki, dan kemakmuran.
Di bagian bawah tumpeng, terdapat makanan penyertanya. Umumnya, urap sayur mayur, lauk pauknya menggunakan telur rebus utuh, ikan, dan sebagainya. Merujuk pada kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa yang tergantung pada alam dan hubungan yang dekat dengan alam. Tumpeng yang berbentuk kerucut menurut sejarahnya perlambang gunung yang banyak terdapat di pulau Jawa. Tanah di sekitar gunung biasanya sangatlah subur sehingga masyarakatnya bercocok tanam. Dari filosofi tersebut, tumpeng dibuat menyerupai bentuk gunung, dan lauk pauk di bawahnya perlambang hasil alam yang didapat dari pekerjaan masyarakat seperti beternak dan bercocok tanam. Semua yang didapat dari alam dan proses mengolah alam.
Filosofi penggunaan sayur dan lauk pauk
Sayuran yang dipilih juga mengandung perlambang tertentu yaitu: bayam, bentuk daunnya sederhana, tidak banyak lekukan. Melambangkan kehidupan yang ayem (aman), tidak banyak konflik. Kangkung, merupakan sayuran yang dapat tumbuh di air maupun di darat. Bermakna, manusia diharapkan sanggup hidup dalam berbagai kondisi dan di mana saja. Kangkung juga mengandung harapan agar cita-cita bisa tercapai seperti makna kata jinangkung (terwujud/tercapai). Kacang panjang, harus utuh. Ini bermakna agar manusia hendaknya selalu berpikir panjang sebelum bertindak. Serta harapan panjang umur. Urap, semua sayuran yang telah direbus/dikukus dicampur urap (kelapa parut yang telah dibumbui). Urap perlambang hidup (urip) diharapkan dapat menghidupi keluarga. Sayuran sendiri perlambang alam semesta yang menghidupi manusia.
Sedangkan untuk lauk pauk yang digunakan yaitu: ikan lele, ikan yang mampu hidup di air keruh, tidak mengalir dan juga hidup di dasar sungai. Maknanya adalah simbol kekuatan, ketabahan, keuletan dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling sulit, mau memulai hidup dan karir dari bawah serta rendah hati. Ikan teri, selalu hidup bergerombol, simbol kebersamaan dan kerukuan. Dalam sajian tumpeng, digoreng dengan tepung dibuat seperti rempeyek sehingga tampak berkelompok, tidak terpisah. Telur, direbus dan disajikan utuh beserta kulitnya, saat memakannya harus dikupas. Melambangkan bahwa semua tindakan harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya. Kerja yang baik adalah yang terencana, teliti, sesuai perhitungan, dan diselesaikan dengan tuntas.
Berikut ini beberapa tumpeng yang kita kenal:
Tumpeng robyong, untuk upacara siraman pada perkawinan adat Jawa, upacara pernikahan, syukuran musim panen, mengusir penyakit, dan sebagainya.
Tumpeng tumbuk untuk acara ulang tahun, terutama untuk usia 64 tahun (tumbuk ageng). Kepercayaan Jawa dan Cina, dimana angka 8 adalah angka keramat, sehingga 64 merupakan perkalian dari 8x8 merupakan umur yang spesial. Dan umur 64 dianggap telah melebihi usia Nabi Muhammad SAW ketika wafat. Sehingga pada tumpengnya diberikan kacang panjang yang dikepang sebagai lambang panjang umur.
Tumpeng pernikahan, seperti tumpeng robyong namun sedikit perbedaan pada bagian nasi dan beberapa ornamen makanan pelengkapnya.
Tumpeng nujuh bulan untuk syukuran kehamilan di usia kandungan tujuh bulan.
Tumpeng brokohan (dari kata barokahan=barakah—bahasa Arab) untuk acara kelahiran bayi.
Tumpeng megono misalnya untuk syukuran kenaikan pangkat atau pindah rumah.
Tumpeng pungkur ada dalam acara pemakaman pria atau wanita lajang/belum menikah.
Tumpeng putih biasanya untuk acara sakral karena warna putih melambangkan kesucian. Tumpeng nasi kuning seperti untuk acara seperti kelahiran, ulang tahun, khitanan, pertunangan, perkawinan, syukuran dan upacara tolak bala.
Tumpeng modifikasi, umumnya tumpeng sesuai selera, tidak memiliki kandungan filosofi. Biasanya menggunakan nasi kuning, nasi goreng atau menggunakan warna lain. Lauk pauknya menurut selera sendiri. Dan masih banyak lagi. (yb)
Bahan: http://sandiwan.blogspot.com/2012/03/tumpeng-dalam-tradisi-jawa-tinjauan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Tumpeng
http://food.detik.com/read/2013/02/26/170948/2180329/297/5-jenis-tumpeng-untuk-beragam-acara
Foto: Maria Yunira & Fatography untuk yubaca.com
Sumber: www.yubaca.com