05/02/2018
Tiga Tahun Kereta Hokkaido Melayani Satu Anak Sekolah
Ada berita lama, Januari tahun lalu, dari koran Inggris Daily Mail yang memancarkan inspirasi abadi tentang pendidikan. Perusahaan kereta api Hokkaido, di baratdaya Jepang, mendapat banyak pujian karena dengan konsisten mengantar-jemput seorang β hanya satu orang β murid SMA bernama Kana Harada.
Kereta bahkan menyesuaikan jadwal singgah di stasiun Kami-Shirataki dengan jadwal sekolah Kana. Remaja itu setiap hari naik kereta tepat pukul 7.04 pagi untuk ke sekolahnya dan kembali menumpang pukul 5.18 sore. Jika sekolah Kana libur, kereta pun ikut libur β tidak berhenti di stasiun terpencil yang sunyi senyap itu.
Hokkaido Railways berencana menutup stasiun terpencil itu pada 2012, tapi membatalkan niat setelah tahu ada satu anak sekolah yang rutin menggunakan jasa kereta api itu untuk pergi-pulang sekolah.
Akhirnya pada 2013 manajemen memutuskan: kereta akan tetap melayani stasiun Kami-Shirataki sampai Maret 2016, saat Kana lulus dari sekolahnya.
Setelah Kana lulus dari sekolah yang berjarak puluhan kilometer dari rumahnya, manajemen perusahaan melaksanakan rencananya: menutup stasiun kosong itu.
Mengapa perusahaan kereta api tersebut mau melayani satu orang penumpang dalam waktu tiga tahun, yang berjarak 80 kilometer dari stasiun awalnya di Akinawara? Mengapa ia mau melakukan tindakan yang menyalahi prinsip standar efisiensi?
Saya kira jawabannya adalah: di atas soal efisiensi, ada yang lebih penting, luhur, dan sesuai dengan filsafat dasar perusahaan, yaitu melayani semua orang. Tidak boleh ada seorang pun yang tertinggal.
Komitmen kokoh itu didasarkan pada landasan moral yang dianut luas oleh masyarakat Jepang: bahwa mereka menomorsatukan pendidikan di atas segalanya. Atas nama pendidikan, mereka bersedia melakukan apa saja.
Smga di indonesia bisa lbih baik lagi dalam memajukan pendidikan diindonesia agar generasi bangsa dapat memajukan dan membangun negara kita ini (Indonesia)