02/04/2026
lebih baik MBG dihentikan. lebih baik relawan jadi pengangguran. daripada korupsi anggaran. lebih baik dana untuk meningkatkan kesejahteraan guru
Dapur MBG seharusnya menjadi ruang kerja sunyi yang penuh tanggung jawab, bukan ruang pencitraan. Ketika yang ditonjolkan justru konten, joget, dan sensasi, maka yang terancam bukan hanya citra program, tetapi esensi dari pemenuhan gizi itu sendiri.
Masalahnya bukan pada pegawai yang sesekali tersenyum di depan kamera, melainkan pada ketiadaan batas yang tegas antara kerja pelayanan publik dan panggung media sosial. Program gizi tidak diukur dari seberapa viral dapurnya, tapi dari seberapa konsisten, bersih, dan adil distribusinya.
Transparansi tidak berarti pamer.
Akuntabilitas tidak berarti hiburan.
Ketika dapur ditutup karena satu kegaduhan, yang terdampak bukan pembuat konten, melainkan anak-anak yang kehilangan hak makannya dan pekerja kecil yang kehilangan penghasilan. Ini menunjukkan rapuhnya sistem pengawasan dan komunikasi di tingkat pelaksana.
MBG butuh:
• SOP yang jelas soal etika publik,
• edukasi bagi mitra tentang posisi mereka sebagai pelayan, bukan figur publik,
• dan perlindungan bagi pekerja dapur agar tidak ikut jadi korban kesalahan segelintir orang.
Karena dapur MBG bukan milik individu.
Ia milik anak-anak, milik rakyat, dan milik masa depan.